Home / Artikel / Analisa / Milad, Refleksi dan Autokritik HMI

Milad, Refleksi dan Autokritik HMI

by Irfan Safari Minggu, 09 Feb 2020 14:05 305 - Analisa

bg-reg

HMIPedia.com - Setiap momentum milad atau hari kelahiran entah itu manusia, organisasi atau bahkan negara akan menyambutnya dengan berbagai ekspresi dan tindakan sebagai wujud penghargaan, penghormatan atau bahkan dalam bentuk seremonial, bisa jadi hal itu sebagai refleksi untuk mengingat kembali masa lampau baik itu momen kejayaan atau bahkan momen kemunduran. Milad tidak hanya diucapkan pada mulut seseorang ataupun segala bentuk ekspresi-ekspresi kita yang memiliki tautan relasi dengan sesuatu yang kita ucapkan atau diekspresikan dalam wujud apa pun, sehingga dapat menimbulkan berbagai ekspresi seperti kebahagiaan, kesenangan, keceriaan, nostalgia, dan romantisme. 

Pada satu sisi sejarah akan menimbulkan ruang-ruang romantisme yang setiap waktu akan terus diingat oleh generasi-generasi berikutnya, sebagai masa yang penuh dengan kehebatan, kejayaan, kebesaran dan superioritas. Ir. Soekarno telah mengatakan bahwa, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau sering disebut, “jasmerah”. Sejarah boleh diingat tetapi jangan sampai kita terlena dengan sejarah itu sehingga membuat manusia tenggelam dengan bayang-bayang kebesaran, kejayaan, dan bahkan beban masa lalu, atau ada sejumlah kecil orang yang mampu mengingat hampir setiap detail kehidupan mereka dengan begitu rinci. Orang-orang ini memiliki kondisi yang disebut sebagai hyperthymestic syndrome atau sindrom mengingat superior. Begitu halnya pada sisi yang lain seseorang sebagai pelakon sejarah akan cenderung mengalami inferior ketika mengingat kembali sejarah lebih-lebih sejarah pada masa kelam, seseorang akan mengalami traumatic (trauma) terhadap sejarah masa lalu, ketika mengingat kembali akan menimbulkan kekhawatiran, ketakutan atau bahkan mengharapkan agar sejarah itu tidak akan terulang kembali. Ketika terjebak dengan sejarah nama besar masa lampau maka kita akan sulit untuk keluar dari sindrom itu, tidak semua sejarah diyakini sebagai hal yang sakral untuk dipelihara atau bahkan harus diikuti secara turun temurun oleh generasi berikutnya, ada kalanya sejarah cukup hanya sebagai pelajaran di masa yang akan datang. Tapi perlu diingat bahwa sebagaimana seorang Ahmad Fuadi (Penulis dari Indonesia 1972), mengatakan bahwa, “Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik”. Jika nasihat itu kita internalisasi dan siap akan meneropong masa depan yang lebih jaya dan cemerlang di tengah masyarakat Himpunan Mahasiswa Islam, mahasiswa, umat, dan bangsa. 

 

Refleksi HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam perjalanan sejarah pergerakan telah banyak memberikan kontribusi untuk mahasiswa, umat dan bangsa sejak berdiri pada 05 Februari 1947 hingga sekarang di era 2020, hal itu menjadi kesuksesan pada masing-masing jaman sesuai dengan konteksnya, situasi dan kondisi sangat mempengaruhi dinamika sejarah seperti pada dimensi sosiologis, politik, dan kultural. Pada generasi awal HMI di era 1947-an hingga 2010-an telah memberikan kontribusi yang begitu besar untuk dunia pergerakan mahasiswa, umat dan bangsa, tentu hal itu dalam pandangan kita, jika dibandingkan dengan perjuangan di masanya yang dinilai tingkat perjuangan lebih sulit dan dibandingkan dengan perjuangan generasi di era 2010-an hingga sekarang yang dinilai masih belum teruji di ruang lingkup internal HMI, bukan berarti penulis membandingkan secara absolut bahwa generasi dululah yang lebih hebat dibandingkan dengan generasi sekarang, dalam setiap era memiliki tantangan dan problem masing-masing dengan konteks jaman yang berbeda-beda sehingga tidak adil rasanya kalau hal itu diperbandingkan, maksud penulis bahwa jadikanlah masa lampau sebagai releksi ataupun ibrah (pelajaran) untuk generasi berikutnya. Ada hal yang menarik yang diucapkan oleh Adolf Hitler (Politikus dari Jerman 1889-1945), mengatakan bahwa, “Orang yang tidak memiliki rasa sejarah, adalah seperti orang yang tidak memiliki telinga atau mata”. maksudnya bahwa sejarah adalah bahagian komponen tubuh ini, sehingga sejarah sebagai penuntun manusia untuk mendengar dan melihat sebagaimana fungsi kedua alat indera manusia. Ketika terjadi pengulangan masa lalu di masa depan; refleksi dari masa depan pada masa lalu. Itu adalah bagian siklus sejarah yang akan terus berputar untuk menemukan momentumnya kembali.

Kini HMI berumur 73 tahun, itu bukan hal yang mudah untuk menuju umur yang dianggap tua jika disejajarkan dengan usia manusia bahkan sudah melampaui batas normal rata-rata usia manusia 60 tahun. Jika dalam perspektif transenden ketika umur telah melewati batas normal berarti tandanya Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada HMI untuk tetap eksis di tengah mahasiswa, umat, dan bangsa, untuk mensyukuri umur yang panjang itu maka HMI harus semakin meningkatkan level perjuangan, kontribusi, pembinaan, pengorbanan dan pengabdian di tengah dunia pergerakan. Terus pertanyaan kemudian sejauh mana kontribusi HMI yang didalamnya dihuni oleh sekumpulan “kader” HMI yang telah berhimpun dengan berbagai genre ataupun latar belakang yang berbeda-beda. Apakah HMI sudah melakukan evaluasi terhadap internal organisasi dengan benar, atau organisasi ini cenderung memngalami stagnan secara gerakan, karya, pemikiran, dan kontribusi untuk umat dan bangsa. Bisa jadi HMI dalam keadaan tidak baik-baik saja nyatanya HMI selalu dirundung masalah di internal HMI dalam setiap periode kepengurusan entah itu masalah pengelolaan organisasi, kader, perkaderan, kepemimpinan ditingkatan struktural. Seorang Soe Hok Gie (Aktivis Indonesia Tionghoa 1942-1969), mengatakan bahwa, “Aku kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai”. Orang-orang yang hidup pada generasi selanjutnya harus mampu menyadari sejarah generasi sebelumnya dengan meropong dan menimbang nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah tersebut.

 

Autokritik HMI

Autokritik merupakan kritik terhadap diri sendiri khususnya pada internal organisasi HMI. Hal ini dilakukan sebagai ikhtiar untuk perbaikan organisasi kedepannya. Salah satu momentum yang tepat ialah ketika hari kelahirannya yang mana semua orang ataupun organisasi dapat mengekspresikan dalam berbagai bentuk yang dianggap baik menurut pelakon-pelakon organisasi. Oleh karena itu tanpa kita memahami problem internal organisasi ini, maka sulit untuk menemukan problem solving (pemecahan masalah) organisasi ini, dan terkadang pelakon organisasi hanya melihat organisasi dalam keadaan baik-baik saja, padahal mereka hanya melihat pada sisi luar saja, tidak melihat secara kritis, menginteropeksi diri, dan mengkritik diri sendiri, maka dari itu autokritik merupakan jalan ideal untuk melihat lebih kritis situasi dan kondisi organisasi ini sehingga pelakon organisasi mampu melakukan perubahan ataupun mengarahkan organisasi ini, tetap on the track (berada pada jalur) yang seharusnya. Penulis mencoba menggali dari berbagai pengalaman yang telah dihadapi selama aktif berhimpun di dalam organisasi ini. 

Jika ditelusuri di internal HMI selama penulis aktif di HMI menurut pengamatan dan pengalamannya ada beberapa problematika yang sering dihadapi oleh HMI yakni:

  1. Pragmatisme kader yakni kader yang mencari keuntungan pribadi dengan menjadikan HMI sebagai batu loncatan untuk mengembangkan jenjang karirnya, sehingga ketika sudah mewujudkan tujuan pribadi dengan serta merta meninggalkan HMI, kader seperti itu dikatakan sebagai “penumpang gelap” secara kiasan bermakna ‘orang yang menyamar’ maksudnya bahwa kader menyembunyikan sisi dalamnya dibalik sisi luarnya.
  2. Tradisi intelektual kader HMI mengalami stagnan bahkan cenderung menurun, hal itu ditandai krisisnya kader menjadi penulis, pembaca, berdiskusi, berkarya, pelopor, pembaharu di tengah mahasiswa dan masyarakat.
  3. Etos juang pengurus ditingkatan komisariat, cabang dan PB HMI mengalami penurunan, hal itu ditandai dengan intensitas aktivitas di internal HMI yang menurun.
  4. Pengelolaan administrasi dan digitalisasi arsip kelembagaan belum berjalan denga baik.
  5. Pengembangan sumber daya kader yang tidak berjalan secara maksimal seperti pengembangan kedirian, keahlian dan lain-lain.
  6. Mengalami krisis keteladanan ditingkatan pusat hingga ke komisariat.
  7. Persoalan rumah dan ekonomi perjuangan HMI yang tidak pernah usai.
  8. Persoalan pembinaan yang tidak berjalan secara konsisten dan berkesinambungan.
  9. Pemerataan sumber daya Pengader HMI di masing-masing cabang se-nusantara tidak berjalan dengan baik.
  10. HMI masih gagap dalam menghadapi tantangan jaman.
  11. Modernisasi gerakan HMI yang belum maksimal.
  12. Hampir seluruh cabang-cabang belum mampu menciptakan kemandirian secara pengelolaan perkaderan.
  13. Kader-kader tidak kreatif, inovatif dan progresif dalam mendesain organisasi agar dapat memiliki daya tarik mahasiswa-mahasiswa untuk bergabung ke organisasi ini.
  14. Inkonsistensi kader dalam berjuang di Himpunan Mahasiswa Islam.
  15. Masih kuatnya intervensi ataupun pengaruh alumni-alumni HMI diinternal Pengurus HMI mulai dari tingkatan Pengurus Komisariat hingga ke Pengurus Besar HMI.
  16. Pengurus HMI belum mampu menciptakan pengelolaan organisasi secara profesional.
  17. HMI tidak memiliki kemandirian dalam membangun pusat ekonomi sebagai pendukung perkaderan dan perjuangan.

Itulah hasil pengamatan subyektif dari penulis yang turut serta berkecimpung di dalamnya, hal itu sebagai ikhtiar untuk memperbaiki dan menata Himpunan Mahasiswa Islam yang kita cintai ini, agar lebih baik lagi dalam mengelola dan mengawal perkaderan dan perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam.

Perlu penulis tegaskan bahwa jadikanlah sejarah masa lampau sebagai pelajaran untuk Himpunan Mahasiswa Islam untuk membangun, mengembangkan dan mempertahankan organisasi HMI. Mudah-mudahan kita sebagai generasi pelanjutnya tidak terjebak dalam romantisme sejarah masa lampau. Kita harus berani untuk menciptakan sejarah sendiri untuk mewujudkan cita-cita ideal HMI. Ada kekhawatiran dari seorang G.W.F. Hegel (Filsuf dari Jerman 1770-1831),  terhadap orang-orang dan sejarahnya dengan mengatakan bahwa, “Perlakuan paling konyol yang sering diterima sejarah adalah manusia tak pernah mau belajar darinya”. Apakah sejarah HMI akan terjadi seperti itu di era-era berikutnya? Wallahualam bisyawab!, hanya sejarah yang akan menjawabnya!. Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, penulis mengucapkan selamat ber-MILAD HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM ke-73. Semoga HMI tetap menjaga, merawat, dan bahkan meningkatkan ritme perkaderan dan perjuangan, semoga tujuan dan sistem organisasi HMI teruslah menyempurna. Yuk kita terus membangun optimisme didalam ber-HMI!.

 

Penulis adalah Pengader Nasional HMI

                   





0 Comment




Welcome to the community

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)
  79
  30/08/2019

Top Member

Ali

19
admin hmipedia

9
Abrar Agus

5
Irfan Safari

5
Zainal ABD

2

NEWSLETTER