Home / Artikel / Analisa / Pengader ; Pendidik, Pemimpin dan Pejuang!

Pengader ; Pendidik, Pemimpin dan Pejuang!

by Irfan Safari Selasa, 25 Feb 2020 13:06 137 - Analisa

bg-reg

HMIPedia.com - Tema tulisan diatas mengutip dari pedoman Korps Pengader (KP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di bagian Bab ii Tujuan, Status, Fungsi dan Peran, pasal 3 pada sepenggal Tujuan, “Terbentuknya sosok Pengader sebagai Pendidik, Pemimpin dan Pejuang”, Islam memandang, hal itu merupakan tugas mulia karena berikhtiar dalam membentuk sosok generasi sebagai manusia pendidik, pemimpin dan sekaligus pejuang di masa kini dan masa depan. Jika disimpulkan seluruh aktivitas pengader bermuara pada implementasi pada tujuan. Korps Pengader telah mengemban tugas yang mulia oleh karena itu untuk menjadi anggota biasa Korps Pengader seorang kader harus mengikuti yang namanya pelatihan Senior Course yang dijelaskan pada pasal 3 Anggota Biasa Anggota Biasa adalah anggota HMI yang telah dinyatakan lulus Senior Course (SC) atau Training of Trainers (TOT). Korps Pengader memiliki fungsi dan peran sebagai lembaga khusus di Himpunan Mahasiswa Islam, hal itu dijelaskan pada pasal 5 fungsi KP HMI berfungsi sebagai pengemban tugas pengelolaan pendidikan latihan umum pada perkaderan HMI. Pasal 6 Peran a. Meningkatkan kualitas anggota HMI dalam rangka mewujudkan cita-cita perkaderan HMI; b. Memberi saran dan atau pendapat kepada pimpinan HMI dalam masalah yang berkaitan dengan perkaderan HMI baik diminta ataupun tidak diminta. (baca; Pedoman Korps Pengader HMI).

                                               

            Jika kita membaca Pedoman Konsep Diri dan Kode Etik Pengader HMI, maka sosok Pendidik, Pemimpin dan Pejuangan terurai secara gamblang sebagai berikut: Didalam Kualifikasi Konsep Diri Pengader adalah realitas yang harus dilakukan oleh pengader sebagai penggambaran jati dirinya. Pengader HMI adalah sosok dengan kepribadian yang utuh sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang (mujahid).

Sebagai Pendidik

Pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai Islam. Pelaksanaannya dalam sistem pelatihan, pengader HMI diharuskan untuk mendidik dan menempatkan dirinya terlebih dahulu sebagai uswatun hasanah (suri teladan) dan memulai sesuatu yang diajarkan dari dirinya (ibda’ bi nafsihi) terlebih dahulu. Proses edukasi dalam pelatihan juga mengharuskan pengader untuk memperlakukan peserta latihan sebagai subyek yang memiliki batasan-batasan hak dan kemerdekaan tertentu. Dengan demikian, setiap unsur pemaksaan, kehendak kepada subyek latihan harus dihindari. Sebaliknya, perlakuan terhadap subyek latihan secara edukatif akan menyebabkan proses tarnsformasi nilai yang dilakukan oleh pengader HMI kepada subyek latihan dapat berjalan secara lebih manusiawi.

Sebagai Pemimpin

Pengader adalah penjaga ukhuwah islamiyah di kalangan kader-kader HMI, khususnya di kalangan pengurus. Pada posisi ini pengader HMI harus berperan sebagai integrator dari setiap bentuk, konflik dan friksi, yang timbul di kalangan kader HMI. Dalam posisi yang sama pula, berperan sebagai pengamat perkembangan HMI, guna mengidentifikasi permasalahan yang timbul serta berupaya untuk mengusahakan pemecahannya secara konsepsional maupun operasional.

Sebagai Pejuang

Pengader HMI menempatkan diri sebagai pelopor dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, baik dalam dinamika intern HMI maupun lingkungan eksternal HMI. Kepeloporannya dalam kerja kemanusiaan atau amal sholeh merupakan tuntutan atas tanggung jawab kemasyarakatannya dalam berbagai realitas kehidupan umat manusia. Langkah amar ma’ruf ini dilakukan untuk menggali potensi kreatif menjadi bentuk amal sholeh bagi kader-kader HMI maupun masyarakat. Sedangkan nahy munkar dilakukan untuk membendung potensi destruktif dari manapun datangnya. (Baca Konsep Diri dan Kode Etik Pengader HMI).

 

            Jika anggota Korps Pengader HMI dapat membentuk dirinya sebagai kepribadian yang utuh tercermin sebagai ketiga sosok manusia pendidik, pemimpin, dan pejuang berarti telah mampu mewujudkan ciri khas seorang pengader ideal yang menjadi tujuan Korps Pengader HMI. Sosok guru tercermin dalam diri seorang pengader karena mengemban sebagai sosok pendidik, salah satu tugas guru adalah mampu mendidik anak-anak didiknya entah itu di rumah, sekolah, pesantren dan lain-lain. Sosok pemimpin dalam keluarga, sosial, negara telah termanifestasi dalam diri seorang pengader, begitu halnya sosok pejuang untuk keluarga, agama, umat dan bangsa terpotret dalam diri seorang pengader.  

 

            Berdasarkan pengamatan dari penulis sebagian paradigma kader-kader mengalami pergeseran dalam beberapa periode PB HMI terakhir yang dulunya jabatan sebagai Ketua Umum PB HMI tidak diperebutkan karena hal itu sifatnya amanah yang berat sulit diemban oleh kader-kader HMI, tapi sekarang jabatan itu mulai diperebutkan oleh banyak kader hanya demi untuk memperoleh atau pun menduduki jabatan itu, itu terlihat maraknya atau demam sosialisasi calon ketua umum di media sosial dan lain-lain. Semangat amanah, komitmen dan istikomah ketiga hal itu menjadi landasan perjuangan HMI didalam mengawal organisasi HMI. Untuk itu penulis sekadar mengingatkan kepada civitas atau pun masyarakat HMI bahwa ada fungsi dan peran yang lebih mulia dibandingkan dengan mengambil amanah sebagai Ketua Umum PB HMI atau Sekretaris Jenderal PB HMI, jabatan yang dianggap prestisius, elit dan mewah oleh sebagian masyarakat HMI, hal itu terlihat ketika adanya momentum Kongres tiba hampir seluruh kader-kader HMI sangat antusias menyuarakan dan mempertanyakan, siapa yang akan maju menjadi Calon Ketua Umum PB HMI? seperti membanjirnya istilah Caketum, for 01 PB HMI dan lain-lain sehingga seakan-akan terkristalisasi dalam diri kader terutama kader era milineal ini, Kader-kader HMI yang seperti itu hanya berorientasi pada populis yang bertujuan untuk mengejar ketenaran, popularitas, dan tujuan pribadi demi mengembangkan karir pribadinya. Hal itu menurut pengamatan dan penilaian dari penulis meskipun lahir dari subyektif penulis, tetapi jika ada yang merasa tersinggung berarti telah mengafirmasi dirinya telah terjangkit penyakit populisme,  penulis berharap jika ada kader-kader HMI sudah terlanjur menilainya sebagai jabatan prestisius, elit dan mewah, itu suatu kekeliruan dan harus segera dikoreksi, dievaluasi dan direm penilaian yang seperti itu.

 

            Menurut analisis penulis kenapa ditengah masyarakat HMI dapat menimbulkan penyakit star sydrome (sindrom bintang), yang mana kader-kader massif berburu dan berebut ingin menjadi bintang di HMI, disebabkan oleh beberapa hal yakni:

  1. Internal organisasi HMI, model Struktur pimpinan di HMI bercorak seperti organisasi partai politik yang berbentuk piramida semakin keatas meruncing atau mengerucut sehingga berpotensi untuk kebergantungan pada pimpinan atau Ketua Umum. Sehingga memunculkan pandangan bahwa untuk menjadi kader HMI yang sukses hanya menjadi ketua umum.
  2. Keputusan dan Komunikasi organisasi cenderung sentralistik hanya terpatron pada sosok pimpinan/ketua umum.
  3. Semakin memudarnya nilai-nilai kolektivitas didalam HMI.  
  4. Internal kader HMI, lebih terdominasi oleh tipikal kader HMI yang berparadigma populisme dengan modal karbitan ataupun instan.
  5. Romantisme sejarah dan kefiguran tokoh-tokoh besar masa lalu HMI telah membius kader-kader HMI sehingga melupakan jati diri dalam menciptakan figur dan sejarahnya sendiri.

 

            Salah satu contoh konkritnya selama ini Lembaga Khusus seperti Korps Pengader Nasional (KPN) ditingkatan nasional atau pun Korps Pengader Cabang (KPC) ditingkatan cabang, dan lain-lain, ada juga lembaga kekaryaan seperti LAPMI, LEMI, LDMI dan lain-lain menjadi krisis peminatnya karena menganggap bahwa jabatan itu tidak populis karena hanya bergerak di bagian lembaga khusus dan lembaga kekaryaan yang tidak memiliki otoritas kuat dalam pengambilan keputusan dan penentu kebijakan, entah benar atau salah? Wallahu a’lam bish-shawabi. Hal itu betul-betul dialami oleh KPN yang sangat sulit dalam menemukan sosok pengader untuk mengawal kepengaderan HMI ditingkatan pusat.

Padahal ghiroh utama dalam ber-HMI adalah etos perkaderan dan perjuangan sehingga apa pun jabatan struktural yang diamanahkan oleh Himpunan Mahasiswa Islam kepada kader-kadernya itu adalah bagian dari pengabdian, perngorbanan dan perjuangan untuk HMI, umat dan bangsa. Kader-kader yang mendapatkan amanah telah melewati berbagai proses perkaderan dan perjuangan selama ber-HMI dengan benar dan berjenjang.

  

            Pencerahan singkat untuk kader-kader HMI yang hanya bertujuan mencari ketenaran di dalam Himpunan Mahasiswa Islam. Sesungguhnya ketenaran akan perlahan-lahan menyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan memperlihatkan amalan kita agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat ini sangat berat.

 

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,

"Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik".

            Mendewakan dan memburu ketenaran, bagaikan semut yang melihat genangan madu, terpukau. Semakin ia meraihnya ke tengah semakin tenggelam dalam genangan madu.

Para penuntut ilmu dan orang shalih bisa jadi juga tidak terlepas dari penyakit ini. Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

"Hal yang paling terakhir luntur dari hatinya orang-orang shalih: cinta kekuasaan dan cinta eksistensi (popularitas)". Akan tetapi jika ketenaran itu datang tanpa dicari maka tidak mengapa dan tidak tercela.

 

Al-Ghazali rahimahullah mengatakan,

"Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela."

 

Hendaknya kita tidak terlalu bangga dengan amal kita, ini yang membuat kita merasa sudah pantas terkenal, padahal amal kita sangat sedikit dan itupun belum tentu diterima.

 

Allah SWT berfirman,

Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut." (QS. Al Mu'minun: 60).

 

'Aisyah menjelaskan terkait ayat ini yaitu maksud dari "hati yang takut" adalah khawatir amalannya tidak diterima, beliau mengatakan,

"Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat" Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut", adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?"

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas menjawab, "Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima."

            Semoga sedikit pencerahan di atas dapat mengetuk hati kader-kader HMI bahwa apa pun yang dilakukan di dalam ber-HMI adalah bagian dari perkaderan, perjuangan, dan pengorbanan untuk mendapatkan ridho Allah SWT, bukan sebaliknya untuk mencari ketenaran atau pun popularitas.

            Dengan menjadi pengader HMI berarti kader akan menjadi pendidik, pemimpin dan pejuang di masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu bersyukurlah anda telah menjadi pengader HMI karena telah mengemban amanah itu. Untuk itu, agar KPN HMI terus berada pada on the track maka KPN HMI harus dikelola secara baik oleh Pengader yang amanah, komitmen dan konsisten.

 

             

Penulis adalah Pengurus KPN PB HMI periode 2018-2020

dan Insya Allah Kandidat Pengemban Amanah Perjuangan Ketua KPN  





0 Comment




NEWSLETTER